Begitu diputuskan bahwa Wi-Fi perlu diperluas lewat kabel, bukan repeater, pertanyaan berikutnya muncul di toko: beli access point atau beli router biasa lalu dijadikan access point? Keduanya berfungsi. Perbedaannya ada di harga, fitur, dan seberapa banyak yang harus disetel dengan tangan.

Bedanya secara singkat

Router adalah gerbang: ia menerima internet dari modem, membagi alamat IP ke perangkat (DHCP), menjadi firewall, dan kebetulan juga memancarkan Wi-Fi. Access point hanya melakukan bagian terakhir: ia menerima kabel dari router yang sudah ada dan memancarkan Wi-Fi. Ia tidak membagi IP, tidak menjadi firewall, tidak membuat jaringan baru, ia memperluas jaringan yang sudah ada.

Karena itu, router biasa yang dicolok begitu saja sebagai perangkat kedua akan membuat jaringan kedua di dalam jaringan pertama: perangkat di lantai atas tidak dapat melihat printer di lantai bawah, dan beberapa aplikasi rumah pintar bingung. Ini persoalan yang dibahas di panduan dua router dalam satu jaringan. Solusinya mengalihkan router kedua ke mode AP: dan di situlah perbandingannya dimulai.

Pilihan 1: Router biasa dalam mode AP

Kelebihan:

  • Mudah didapat, dan router lama yang menganggur dapat dipakai tanpa membeli apa pun.
  • Punya beberapa port LAN, sehingga sekaligus menjadi switch kecil untuk TV atau komputer di dekatnya.
  • Bila kelak kebutuhan berubah, ia dapat kembali menjadi router penuh.

Kekurangan:

  • Pemasangan perlu beberapa langkah manual: mematikan DHCP, memberi IP tetap, mencolokkan kabel ke port LAN bukan WAN (kecuali router menyediakan mode AP resmi yang mengurus semuanya).
  • Bentuknya untuk meja, bukan langit-langit. Dengan antena luar yang mencuat, ia kurang enak dilihat di dinding.
  • Setelan Wi-Fi tidak tersinkron: mengganti kata sandi berarti masuk ke dua halaman admin.
  • Tidak mendukung PoE, jadi butuh stopkontak di tempatnya dipasang.

Pilihan 2: Access point khusus

Kelebihan:

  • Dirancang untuk dipasang di langit-langit atau dinding; bentuk pipih tanpa antena luar, dan sebaran sinyalnya memang diarahkan ke bawah.
  • Umumnya mendukung PoE: satu kabel LAN membawa data dan listrik, tidak perlu stopkontak di langit-langit.
  • Bila memakai beberapa unit merek yang sama, setelannya dikelola dari satu tempat dan perangkat berpindah antar unit dengan mulus, lihat panduan roaming antar access point.
  • Pemasangannya sekadar colok: ia tidak punya DHCP yang harus dimatikan.

Kekurangan:

  • Untuk kemampuan Wi-Fi yang setara, harganya sedikit lebih mahal daripada router kelas yang sama.
  • Biasanya hanya satu port LAN. Bila perlu menyambungkan TV dan komputer di sana, butuh switch tambahan.
  • Bila belum punya injector atau switch PoE, itu biaya tambahan, atau pakai adaptor daya biasa yang biasanya disertakan.
  • Sebagian merek mengharuskan aplikasi atau pengelola khusus untuk setelan awal.

Cara memutuskan

  • Punya router lama yang masih layak, dan ada stopkontak di lokasi → jadikan access point. Gratis, dan langkahnya ada di panduan dua router di atas.
  • Membeli baru untuk rumah, satu titik tambahan → keduanya sama baiknya. Pilih access point bila lokasinya di langit-langit atau tanpa stopkontak; pilih router bila lokasinya di meja dan perlu port LAN tambahan.
  • Membeli baru untuk usaha, atau lebih dari dua titik → access point khusus, satu merek, dengan PoE. Pengelolaan terpusat dan roaming yang benar sepadan dengan selisih harganya, dan itu yang membedakan Wi-Fi kafe yang "putus saat pindah meja" dari yang tidak. Lihat panduan kapasitas Wi-Fi venue.
  • Tidak dapat menarik kabel sama sekali → ini bukan pilihan antara keduanya. Lihat mesh vs repeater atau powerline dan alternatifnya.

Yang berlaku untuk keduanya

Apa pun pilihannya: pakai nama dan kata sandi Wi-Fi yang sama dengan router utama supaya perangkat berpindah sendiri, pilih kanal yang berbeda dari router utama (lihat panduan memilih kanal), dan letakkan di tengah area yang ingin dijangkau, bukan di ujungnya. Kabelnya sebaiknya Cat 5e atau Cat 6, panduannya di memilih kabel LAN.

Router dalam mode AP: murah atau gratis, butuh stopkontak dan beberapa langkah setelan, cocok untuk satu titik tambahan di rumah. Access point khusus: sedikit lebih mahal, dipasang di langit-langit dengan PoE, dikelola terpusat, cocok untuk usaha atau rumah dengan beberapa titik. Keduanya jauh lebih baik daripada repeater.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa beda access point dengan repeater atau extender?

Access point menerima internet lewat kabel dan memancarkan Wi-Fi baru dengan kecepatan penuh. Repeater menerima lewat Wi-Fi dan memancarkan ulang, sehingga kecepatannya turun separuh. Bila kabel dapat ditarik, access point selalu lebih baik.

Router lama saya bisa dijadikan access point?

Bisa, asalkan masih mendukung standar Wi-Fi yang layak (minimal Wi-Fi 5) dan punya mode AP atau dapat disetel manual dengan mematikan DHCP-nya. Router yang sangat tua hanya akan menjadi titik lambat di jaringan.

Berapa access point yang dibutuhkan rumah dua lantai?

Umumnya satu router di lantai satu ditambah satu access point di lantai dua sudah cukup untuk rumah sampai sekitar 150 m². Rumah yang lebih besar atau berdinding beton tebal mungkin butuh satu tambahan lagi di ujung terjauh.