Gejalanya khas dan membingungkan. Anda berjalan dari ruang depan ke ruang belakang, berdiri tepat di bawah access point yang baru dipasang, dan ponsel Anda tetap tersambung ke yang di ruang depan, dengan satu batang sinyal dan internet yang tersendat.

Refleks pertamanya adalah menyalahkan access point yang baru. Padahal ia bekerja dengan baik; yang tidak terjadi hanyalah perpindahannya.

Yang perlu diketahui lebih dulu: siapa yang memutuskan

Ini kenyataan yang mengubah seluruh cara memperbaikinya, dan hampir selalu mengejutkan: keputusan berpindah ada pada perangkat, bukan pada jaringan.

Router dan access point tidak dapat menarik sebuah ponsel berpindah. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyarankan, dan hanya bila ponselnya mendukung mekanisme sarannya. Selebihnya, ponsel itu sendiri yang memutuskan kapan mencari, ke mana pindah, dan apakah pindah sama sekali.

Sebagian besar perangkat memutuskannya dengan aturan yang sederhana dan kikuk: bertahan pada sambungan yang ada selama masih dianggap cukup, dan baru mencari yang lain ketika sinyalnya sudah benar-benar buruk. Bukan ketika ada yang lebih baik, melainkan ketika yang sekarang sudah hampir gagal.

Inilah yang disebut sticky client: perangkat yang menempel pada access point lama sampai sambungannya nyaris putus. Perilakunya wajar untuk perangkat yang harus hemat daya, memindai jaringan menghabiskan baterai, tetapi hasilnya buruk bagi orang yang berjalan membawanya.

Syarat dasar sebelum apa pun

Sebelum menyentuh pengaturan lanjutan, tiga hal ini harus benar. Tanpa ketiganya, perpindahan tidak akan pernah berjalan sendiri.

  • Nama jaringan yang persis sama pada semua access point. Termasuk huruf besar kecilnya.
  • Kata sandi dan jenis enkripsi yang sama. Satu access point yang masih memakai WPA2 sementara yang lain WPA3 akan membuat perpindahan ke sana gagal, lihat panduan beda WPA2 dan WPA3.
  • Satu jaringan yang sama di belakangnya. Access point kedua harus meneruskan jaringan yang sama, bukan membuat jaringan sendiri di belakang NAT-nya. Susunannya dibahas pada panduan setting dua router dalam satu jaringan.

Nama yang berbeda per lantai, "WiFi-Lantai1", "WiFi-Lantai2", memang menghilangkan kebingungan teknis, tetapi memindahkan pekerjaannya ke pengguna. Hampir tidak ada yang berhenti berjalan untuk mengganti jaringan.

Yang paling sering menyelesaikan: turunkan daya pancar

Ini terasa terbalik, dan justru karena itu jarang dicoba.

Bila setiap access point memancar sekuat mungkin, jangkauannya saling menumpuk jauh melewati batas yang diperlukan. Perangkat di ruang belakang masih menerima sinyal yang "cukup" dari access point ruang depan, jadi ia tidak melihat alasan untuk pindah.

Menurunkan daya pancar mempersempit setiap jangkauan, sehingga sinyal access point lama benar-benar menurun ketika Anda berpindah ruang. Penurunan itulah yang memicu perangkat mencari, dan ketika ia mencari, ia menemukan yang lebih dekat.

Turunkan bertahap, satu tingkat setiap kali, dan periksa tidak ada titik yang menjadi tanpa sinyal sama sekali. Yang dicari adalah tumpang tindih yang cukup untuk perpindahan mulus, bukan tumpang tindih semaksimal mungkin. Penempatan fisiknya juga berpengaruh besar, lihat panduan menempatkan router.

802.11k, v, dan r: apa yang sebenarnya mereka lakukan

Ketiganya sering disebut bersama seolah satu paket, padahal masing-masing menangani tahap yang berbeda dari perpindahan yang sama.

  • 802.11k, daftar tetangga. Jaringan memberi tahu perangkat access point mana saja yang ada di sekitarnya dan pada kanal berapa. Tanpa ini, perangkat harus memindai seluruh kanal sendiri, yang lambat dan boros baterai, jadi ia menundanya selama mungkin.
  • 802.11v, saran berpindah. Jaringan dapat menyarankan perangkat pindah ke access point tertentu. Sekadar saran; perangkat boleh menolak. Tetapi sebagian besar perangkat modern menurutinya, dan inilah yang paling terasa hasilnya.
  • 802.11r, penyambungan cepat. Mempercepat proses menyambung ulang dengan menyimpan sebagian jabat tangan keamanan. Berpengaruh besar pada panggilan suara dan video, yang putus terdengar meski hanya sedetik; hampir tidak terasa untuk membuka halaman web.

Ketiganya hanya bekerja bila perangkatnya juga mendukung. Menyalakannya di router tidak memperbaiki perangkat yang tidak mengerti. Dan 802.11r kadang membuat perangkat lama gagal menyambung sama sekali, bila ada yang bermasalah setelah dinyalakan, itu tersangka pertama.

Band steering: berguna, tapi bukan untuk ini

Band steering mengarahkan perangkat dari 2,4 GHz ke 5 GHz ketika keduanya tersedia. Ia sering disebut dalam pembicaraan tentang roaming, padahal menyelesaikan persoalan yang berbeda: memilih pita, bukan memilih access point.

Perbedaan kedua pita itu dibahas pada panduan beda 2,4 GHz, 5 GHz, dan 6 GHz. Yang perlu diketahui di sini: jangkauan 5 GHz lebih pendek, dan pada jaringan dengan beberapa access point itu justru menguntungkan, sinyalnya menurun lebih tegas saat menjauh, sehingga perpindahannya lebih cepat terpicu.

Bila perangkat tertentu selalu bermasalah dengan band steering, sebagian perangkat lama demikian, memberinya nama jaringan terpisah khusus 2,4 GHz lebih baik daripada mematikan band steering untuk semua orang.

Mesh tidak otomatis menyelesaikannya

Perangkat mesh dipasarkan dengan janji perpindahan mulus, dan sebagian besar memang menyalakan 802.11k, v, dan r secara bawaan. Tetapi mereka tidak dapat mengubah kenyataan dasarnya: keputusan tetap ada pada perangkat.

Mesh yang dipasang dengan jarak antarsimpul terlalu jauh, atau dengan daya pancar penuh di ruangan kecil, menghasilkan gejala yang sama persis dengan access point biasa. Perbandingannya ada pada panduan mesh Wi-Fi vs repeater.

Perlu ditegaskan juga bahwa repeater berbeda: sebagian besar membuat jaringan yang berdiri sendiri dan menyambung ulang bukan berpindah, lihat panduan penguat sinyal Wi-Fi.

Cara mengujinya

Pengujian yang berguna sederhana, dan lebih baik dilakukan berjalan daripada berdiri diam:

  1. Buka aplikasi analisa sinyal yang menampilkan alamat MAC access point yang sedang dipakai, lihat panduan aplikasi analisa sinyal Wi-Fi.
  2. Catat alamat MAC masing-masing access point lebih dulu, supaya Anda tahu sedang berada di mana.
  3. Berjalanlah perlahan dari satu ujung ke ujung lain, sambil memperhatikan kapan alamatnya berganti.
  4. Perhatikan pada kekuatan sinyal berapa perpindahannya terjadi. Bila baru berpindah di bawah -80 dBm, perangkatnya menempel terlalu lama, dan menurunkan daya pancar adalah langkah berikutnya.

Bila alamatnya tidak pernah berganti sama sekali sampai Anda berdiri tepat di bawah access point kedua, periksa kembali syarat dasar di atas, kemungkinan besar salah satunya belum benar.

Perpindahan tidak dapat dipaksakan dari sisi jaringan, karena keputusannya bukan milik jaringan. Yang dapat Anda lakukan adalah membuat bertahan menjadi pilihan yang jelas-jelas buruk.

Urutan yang paling sering berhasil: samakan nama, kata sandi, dan enkripsi di semua access point; turunkan daya pancar sampai tumpang tindihnya secukupnya saja; lalu nyalakan 802.11k dan v. 802.11r belakangan, dan hanya bila panggilan suara terganggu.

Menaikkan daya pancar, yang paling sering dicoba orang, justru memperpanjang persoalannya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kenapa ponsel saya tetap memakai access point yang jauh padahal ada yang lebih dekat?

Karena keputusan berpindah ada pada perangkat, bukan pada router. Sebagian besar perangkat baru mencari access point lain ketika sinyalnya sudah benar-benar buruk, bukan ketika ada yang lebih baik. Selama sambungan lama masih dianggap cukup, ia bertahan di sana.

Apakah semua access point harus memakai nama jaringan yang sama?

Ya, bila Anda ingin perpindahannya berjalan sendiri. Nama, kata sandi, dan jenis enkripsi harus persis sama. Nama yang berbeda memaksa pengguna memilih sendiri, dan hampir tidak ada yang melakukannya saat berjalan dari satu ruang ke ruang lain.

Apa gunanya 802.11k, v, dan r?

Ketiganya membantu perpindahan pada tahap yang berbeda: k memberi tahu perangkat access point mana saja yang ada di sekitarnya, v memungkinkan jaringan menyarankan perpindahan, dan r mempercepat proses menyambung ulang. Semuanya hanya berpengaruh bila perangkatnya juga mendukung.

Apakah menaikkan daya pancar membantu?

Biasanya justru memperburuk. Daya yang lebih besar memperluas jangkauan setiap access point, sehingga perangkat makin lama bertahan pada yang jauh. Pada jaringan dengan beberapa access point, menurunkan daya seringkali lebih menyelesaikan.