Wi-Fi sudah menjadi hal yang ditanyakan calon penghuni sebelum melihat kamarnya. Bagi pemilik kos, ia berubah dari nilai tambah menjadi kebutuhan dasar, sekaligus sumber keluhan yang paling sering.
Dan keluhannya jarang soal sinyal. Yang paling sering terjadi: satu penghuni mengunduh besar, lalu seisi bangunan merasa internetnya rusak.
Memperkirakan kebutuhan
Dua angka yang menentukan: jumlah kamar, dan berapa yang aktif bersamaan pada jam sibuk, biasanya antara pukul delapan sampai sebelas malam.
| Jumlah kamar | Langganan yang masuk akal | Titik akses |
|---|---|---|
| Sampai 8 | 50 Mbps | 1–2 |
| 8–15 | 100 Mbps | 2–3 |
| 15–30 | 150–200 Mbps | 3–5 |
| Lebih dari 30 | Pertimbangkan langganan bisnis | 5 ke atas |
Angka ini mengandaikan pemakaian umum: media sosial, pesan, sesekali video. Bila banyak penghuni bekerja atau kuliah daring dengan rapat video sepanjang hari, naikkan satu tingkat.
Jangan mengandalkan satu router untuk seluruh bangunan. Dinding bata dan beton antar kamar meredam sinyal jauh lebih besar daripada dugaan. Satu titik akses per lantai, ditempatkan di koridor, hampir selalu memberi hasil lebih baik daripada satu router besar di ruang depan. Alasannya dibahas di panduan menempatkan router.
Pembatasan per perangkat adalah kuncinya
Bila hanya satu hal yang dikerjakan, kerjakan yang ini.
Tanpa batas kecepatan per perangkat, kapasitas dibagi berdasarkan siapa yang paling banyak meminta. Satu orang yang mengunduh berkas besar dapat mengambil sebagian besar kapasitas, dan penghuni lain merasakannya sebagai internet yang tiba-tiba mati.
Dengan batas atas per perangkat, misalnya 10 Mbps ketika langganan 100 Mbps untuk sepuluh kamar, tidak ada satu perangkat pun yang dapat menguasai jalur. Menariknya, sebagian besar penghuni tidak akan merasakan perbedaan, karena pemakaian sehari-hari jarang menyentuh batas itu.
Menu yang dicari biasanya bernama QoS, Bandwidth Control, atau Rate Limit, tergantung merek.
Cara mengatur aksesnya
Tiga pendekatan, dari yang paling sederhana:
- Satu kata sandi bersama. Paling mudah, paling murah, tapi kata sandinya ikut keluar bersama penghuni yang pindah. Perlu penggantian berkala, caranya di panduan mengganti kata sandi Wi-Fi.
- Portal dengan akun per kamar. Setiap kamar punya akun sendiri yang bisa dinonaktifkan saat penghuni keluar. Lebih rapi, dan memberi Anda gambaran pemakaian per kamar.
- Jaringan terpisah per lantai. Memudahkan penelusuran saat ada masalah, dan membatasi dampaknya hanya pada satu lantai.
Memisahkan penghuni satu sama lain
Ini bagian yang hampir selalu terlewat, padahal penting.
Secara bawaan, seluruh perangkat di satu jaringan dapat saling melihat. Artinya laptop penghuni kamar tiga berpotensi mengakses berkas yang tanpa sengaja dibagikan dari laptop penghuni kamar tujuh.
Aktifkan isolasi klien, kadang disebut AP Isolation atau Client Isolation. Dengan begitu setiap perangkat hanya bisa keluar ke internet, tidak melihat perangkat lain. Prinsipnya sama dengan yang dibahas di panduan memisahkan jaringan tamu.
Jaringan operasional Anda sendiri, kamera pengawas, komputer pengelola, sebaiknya berada di jaringan yang benar-benar terpisah dari penghuni.
Gambaran biaya
| Pos | Kisaran | Catatan |
|---|---|---|
| Langganan internet | Rp 300 rb – 1 jt/bulan | Sesuai jumlah kamar |
| Router dengan QoS | Rp 800 rb – 2,5 jt | Sekali beli |
| Access point per lantai | Rp 700 rb – 1,5 jt | Per unit |
| Kabel dan pemasangan | Rp 1 jt – 3 jt | Tergantung jalur |
Untuk kos sepuluh kamar, biaya awal umumnya berada di kisaran empat sampai tujuh juta rupiah. Rincian pos yang sering luput dari perhitungan dibahas di panduan biaya Wi-Fi tamu untuk usaha.
Menghindari sengketa
Sisi penghuninya, apa yang wajar dituntut bila Wi-Fi dijanjikan sebagai fasilitas, ada di panduan internet di rumah kontrakan dan kos.
Tiga hal yang mencegah sebagian besar perselisihan, dan sebaiknya disebutkan sejak perjanjian sewa:
- Nyatakan bahwa internet dibagi bersama, bukan kecepatan yang dijamin per kamar. Ini menghindari tuntutan yang tidak bisa dipenuhi.
- Sebutkan batas kecepatan per perangkat secara terbuka. Penghuni yang tahu batasnya sejak awal jarang mempersoalkannya.
- Jelaskan bahwa gangguan dari penyedia berada di luar kendali Anda, dan waktu penanganannya mengikuti penyedia.
Bila keluhan tetap muncul, periksa dulu apakah penyebabnya benar-benar kapasitas. Sering kali bukan, dan urutan pemeriksaannya ada di panduan mengatasi Wi-Fi lemot.
Satu catatan terakhir: bila Anda memungut biaya internet terpisah dari uang sewa, ada pertimbangan hukum yang perlu diketahui. Bahasannya ada di panduan RT RW net.
Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa kecepatan langganan untuk kos sepuluh kamar?
Untuk pemakaian umum, perkirakan 5 sampai 10 Mbps per kamar aktif. Karena tidak semua kamar aktif bersamaan, langganan 50 sampai 100 Mbps biasanya memadai untuk sepuluh kamar. Yang lebih menentukan adalah pembatasan per kamar, bukan besar langganannya.
Lebih baik satu Wi-Fi bersama atau satu per kamar?
Satu jaringan bersama dengan pembatasan per perangkat jauh lebih mudah dikelola dan lebih murah. Satu router per kamar hanya masuk akal bila penghuni membayar terpisah dan menuntut kecepatan yang dijamin sendiri.
Apakah perlu mengganti kata sandi tiap ada penghuni baru?
Idealnya ya, tapi merepotkan. Yang lebih praktis adalah memakai portal dengan akun per kamar, atau setidaknya menjadwalkan penggantian kata sandi setiap beberapa bulan sekaligus saat ada pergantian penghuni.
Bagaimana kalau ada penghuni yang memakai berlebihan?
Membatasi kecepatan per perangkat lebih baik daripada memblokir. Dengan batas atas, satu orang yang mengunduh besar tidak lagi menghabiskan kapasitas bersama, dan tidak ada yang merasa diperlakukan khusus.