Kamera CCTV Wi-Fi dijual dengan janji sederhana: tempel di dinding, sambungkan ke aplikasi, lihat rumah dari mana saja. Untuk sebagian orang memang semudah itu. Untuk yang lain, kamera sering "offline", rekamannya patah-patah, dan saat benar-benar dibutuhkan, rekaman di jam kejadian ternyata kosong.

Perbedaannya jarang ada di merek. Biasanya ada di beberapa hal yang tidak tertulis besar di kotak.

Wi-Fi atau kabel

Kamera Wi-Fi tetap butuh kabel listrik. Yang dihilangkan hanya kabel data. Itu praktis, tetapi membuat kamera bergantung pada sinyal Wi-Fi di titik pemasangan, yang sering justru paling lemah: teras, pagar depan, garasi, atau halaman belakang.

Video dari kamera terus mengalir ke perekam atau cloud. Kamera 2K yang merekam terus-menerus bisa memakai 1 sampai 4 Mbps unggahan. Dengan sinyal pas-pasan, gambar menjadi kotak-kotak atau kamera terputus. Sebelum membeli, berdirilah di titik pemasangan dengan ponsel dan lihat kekuatan sinyalnya. Kalau satu atau dua garis, pertimbangkan:

Sebagian besar kamera Wi-Fi rumahan hanya bekerja di 2,4 GHz. Itu bukan kekurangan: pita ini menjangkau lebih jauh dan menembus dinding lebih baik. Perbedaannya dijelaskan di beda 2,4 GHz, 5 GHz, dan 6 GHz.

Resolusi dan penglihatan malam

Untuk rumah, 2 sampai 4 megapiksel sudah cukup bila kameranya dipasang di jarak yang tepat. Resolusi lebih tinggi menambah beban Wi-Fi dan penyimpanan, dan sering tidak menambah detail yang berguna kalau lensanya biasa. Yang lebih menentukan:

  • Sudut pandang. Lensa lebar menangkap banyak area, tetapi wajah di kejauhan menjadi kecil. Kamera untuk pintu masuk sebaiknya dipasang setinggi kira-kira dua meter, dekat dengan arah orang datang.
  • Penglihatan malam. Inframerah memberi gambar hitam-putih yang jelas dalam gelap. Mode berwarna butuh lampu sorot di kamera atau lampu teras yang menyala, dan sering lebih silau.
  • Cahaya dari belakang. Kamera yang menghadap pintu terbuka atau langit sering menampilkan orang sebagai siluet. Fitur WDR membantu, tetapi letak kamera lebih menentukan.

Penyimpanan rekaman

PilihanKelebihanKekurangan
MicroSD di kameraMurah, tanpa langganan, tetap merekam walau internet putusHilang bila kamera dicuri; kartu murah cepat rusak
Cloud pabrikanAman dari pencurian kamera, mudah dibuka dari ponselBiaya bulanan, butuh unggahan stabil
Perekam (NVR) di dalam rumahMenampung banyak kamera dan rekaman panjangBiaya awal lebih besar, perlu tempat tersembunyi

Kalau memakai microSD, pilih kartu yang dirancang untuk perekaman terus-menerus (sering berlabel high endurance), dan cek sesekali bahwa rekamannya benar-benar ada. Kartu yang rusak sering baru ketahuan saat rekamannya dibutuhkan.

Pertimbangkan juga listrik. Kamera dan router mati saat listrik padam, padahal pemadaman kadang justru dimanfaatkan pelaku. UPS kecil untuk router dan kamera utama menjaga rekaman tetap berjalan.

Untuk luar ruangan

Kamera di luar harus tahan hujan dan debu. Cari peringkat IP65 atau IP66, bukan sekadar tulisan "outdoor". Perhatikan juga sambungan kabel listriknya: kameranya tahan air, tetapi adaptor dan sambungan kabel sering tidak. Taruh adaptor di dalam ruangan atau di kotak sambungan yang tertutup.

Aplikasi dan keamanan

Kamera Wi-Fi hampir selalu dikendalikan lewat aplikasi pabrikan. Kualitas aplikasi dan dukungannya menentukan pengalaman bertahun-tahun ke depan:

  • Pilih merek yang rutin memperbarui firmware dan aplikasi, dan punya perwakilan resmi di Indonesia.
  • Pastikan perangkat punya sertifikat dari Kementerian Komunikasi dan Digital; lihat sertifikasi perangkat telekomunikasi.
  • Aktifkan verifikasi dua langkah di akun aplikasi kamera, dan jangan memakai sandi yang sama dengan akun lain.
  • Bila router mendukung, letakkan kamera di jaringan terpisah dari laptop dan ponsel; caranya mirip dengan memisahkan jaringan tamu.

Risiko keamanan kamera secara lebih lengkap dibahas di keamanan kamera CCTV Wi-Fi.

Arah kamera dan tetangga

Arahkan kamera ke area milik sendiri. Kamera yang menyorot jendela, kamar mandi, atau halaman tetangga mudah memicu perselisihan, dan perekaman suara menambah persoalan privasi. Batas-batasnya dibahas di aturan CCTV dan privasi.

Sebelum membayar

  1. Cek sinyal Wi-Fi di titik pemasangan dengan ponsel.
  2. Tentukan penyimpanan: microSD, cloud, atau perekam.
  3. Untuk luar ruangan, pastikan peringkat IP65 atau IP66 dan rencanakan letak adaptor.
  4. Periksa reputasi aplikasi, pembaruan firmware, dan sertifikasi.
  5. Rencanakan daya cadangan untuk router dan kamera utama.

Pertanyaan yang sering diajukan

Lebih baik CCTV Wi-Fi atau CCTV kabel?

Kabel, terutama PoE, lebih andal untuk kamera yang jauh dari router atau dipasang di luar rumah, karena tidak terganggu sinyal. Wi-Fi lebih praktis untuk satu atau dua kamera di dalam rumah atau di teras yang masih terjangkau sinyal kuat.

Rekaman disimpan di microSD atau cloud?

MicroSD murah dan tidak butuh langganan, tetapi ikut hilang bila kameranya dicuri atau dirusak. Cloud aman dari pencurian kamera, tetapi berbayar dan bergantung pada internet. Untuk rumah, microSD dengan satu kamera yang mengarah ke pintu masuk sering sudah memadai; tambahkan cloud atau perekam terpisah bila kebutuhan bukti lebih penting.

Kenapa kamera Wi-Fi saya tidak menemukan Wi-Fi 5 GHz?

Sebagian besar kamera Wi-Fi rumahan hanya mendukung 2,4 GHz. Pita ini menjangkau lebih jauh dan menembus dinding lebih baik. Pastikan router tetap memancarkan 2,4 GHz, dan bila memakai satu nama Wi-Fi untuk dua pita, sambungkan kamera saat berada dekat router atau pisahkan sementara nama pitanya.