Kamera pengawas sudah menjadi perlengkapan biasa di kafe, klinik, toko, dan kantor kecil. Memasangnya sah dan sering memang diperlukan.

Yang jarang disadari: begitu kamera merekam wajah orang, Anda mengumpulkan data pribadi, dan sejak berlakunya UU No. 27 Tahun 2022, itu membawa kewajiban yang melekat.

Kabar baiknya, memenuhinya tidak rumit. Sebagian besar hanya menuntut kejelasan.

Kenapa rekaman termasuk data pribadi

Data pribadi adalah data yang dapat mengidentifikasi seseorang, baik sendiri maupun digabung dengan data lain. Wajah memenuhi syarat itu secara langsung.

Artinya, sebagai pemilik usaha yang memasang kamera, Anda berperan sebagai pengendali data, pihak yang menentukan tujuan dan cara pemrosesannya. Peran itu membawa empat kewajiban dasar: punya alasan yang sah, memberitahu, menjaga keamanannya, dan tidak menyimpan lebih lama dari yang diperlukan.

Catatan. Tulisan ini ringkasan edukatif, bukan nasihat hukum. Penerapan pada situasi tertentu bergantung pada banyak hal yang tidak dapat dinilai dari jauh. Untuk keputusan usaha, konsultasikan dengan penasihat hukum yang kompeten.

Tiga hal yang membedakan

AspekYang wajarYang menimbulkan masalah
TujuanKeamanan aset dan orangMengawasi karyawan diam-diam
AreaPintu masuk, kasir, gudangToilet, ruang ganti, musala
PemberitahuanPapan terlihat sebelum masukKamera tersembunyi
Masa simpanSekitar 30 hariDisimpan tanpa batas
Akses rekamanTerbatas dan tercatatBisa dibuka siapa saja

Kolom terakhir yang paling sering diabaikan. Rekaman yang dapat dibuka siapa saja dari ponsel masing-masing adalah kebocoran yang menunggu waktu.

Area yang tidak boleh direkam

Ada tempat yang memiliki harapan privasi tinggi, dan memasang kamera di sana bermasalah terlepas dari alasannya:

  • Toilet dan kamar mandi
  • Ruang ganti
  • Musala atau ruang ibadah
  • Ruang istirahat karyawan
  • Ruang periksa pada klinik

Perhatikan juga arah kamera di luar bangunan. Kamera yang dipasang untuk mengawasi pintu toko tapi ikut merekam bagian dalam rumah tetangga menciptakan persoalan yang berbeda, dan sering menjadi sumber sengketa antarwarga.

Memberitahu dengan benar

Papan pemberitahuan yang memadai memuat tiga hal:

  1. Bahwa area ini dipantau kamera.
  2. Siapa yang memasang: nama usaha Anda.
  3. Ke mana bertanya: nomor atau alamat yang dapat dihubungi.

Letakkan sebelum orang memasuki area terpantau, bukan di dalamnya. Pemberitahuan yang baru terlihat setelah seseorang terlanjur terekam kehilangan sebagian besar maknanya.

Untuk karyawan, pemberitahuan sebaiknya lebih rinci dan disampaikan tertulis: di mana kameranya, untuk apa, siapa yang dapat melihat, dan berapa lama disimpan.

Masa simpan dan pengamanan

Simpan selama yang benar-benar diperlukan. Untuk keamanan usaha, tiga puluh hari umumnya memadai, cukup untuk menyadari ada kejadian dan menariknya kembali.

Menyimpan lebih lama menambah risiko tanpa menambah manfaat. Perekam yang menimpa rekaman lama secara otomatis justru membantu Anda memenuhi prinsip ini tanpa perlu diingat.

Untuk pengamanannya, empat langkah dasar:

  • Ganti kata sandi bawaan perekam dan kamera. Kombinasi bawaan tiap merek beredar terbuka.
  • Jangan membuka port perekam ke internet tanpa pertimbangan matang, risikonya dibahas di panduan port forwarding.
  • Tempatkan kamera di jaringan terpisah dari kasir dan komputer kerja, panduan memisahkan jaringan.
  • Batasi siapa yang punya akses, dan cabut aksesnya saat orang itu berhenti bekerja.

Pertimbangan keamanan perangkat kamera secara umum dibahas lebih jauh di panduan keamanan perangkat pintar.

Hak orang yang terekam

Seseorang yang terekam adalah subjek data, dan memiliki hak yang perlu Anda siapkan jawabannya:

HakYang perlu Anda siapkan
Mengetahui adanya perekamanPapan pemberitahuan
Mengakses rekaman dirinyaProsedur permintaan, wajah lain disamarkan
Mengajukan keberatanKanal untuk menyampaikannya
Meminta penghapusanPenilaian kasus per kasus

Permintaan akses adalah yang paling sering menimbulkan kebingungan, karena satu rekaman biasanya memuat banyak orang. Memenuhi hak satu orang tidak boleh melanggar privasi yang lain, sehingga penyamaran wajah pihak ketiga menjadi jalan tengah yang lazim.

Yang bisa dikerjakan minggu ini

  1. Periksa arah setiap kamera. Pastikan tidak ada yang mengarah ke area privasi tinggi atau ke properti tetangga.
  2. Pasang papan pemberitahuan di setiap pintu masuk.
  3. Setel masa simpan perekam ke tiga puluh hari.
  4. Ganti kata sandi perekam dan kamera dari bawaannya.
  5. Catat siapa saja yang punya akses, dan cabut yang sudah tidak perlu.

Kelimanya dapat diselesaikan dalam satu sore, dan menutup sebagian besar risiko yang biasanya baru disadari saat sudah terlambat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah wajib memasang papan pemberitahuan CCTV?

Prinsip transparansi dalam UU PDP mengharuskan orang tahu bahwa datanya sedang dikumpulkan. Papan pemberitahuan yang terlihat sebelum orang memasuki area terpantau adalah cara paling sederhana memenuhinya, dan memasangnya jauh lebih murah daripada menghadapi keberatan.

Berapa lama rekaman CCTV sebaiknya disimpan?

Selama yang benar-benar diperlukan untuk tujuannya, umumnya tiga puluh hari untuk keperluan keamanan usaha. Menyimpan lebih lama tanpa alasan justru menambah risiko tanpa menambah manfaat, dan bertentangan dengan prinsip pembatasan penyimpanan.

Bolehkah memasang CCTV yang merekam suara?

Merekam percakapan menambah lapisan risiko yang jauh lebih besar daripada gambar saja, karena isi pembicaraan tergolong lebih sensitif. Untuk keperluan keamanan usaha, perekaman suara jarang benar-benar diperlukan dan sebaiknya dimatikan.

Apakah karyawan berhak meminta rekaman dirinya?

Sebagai subjek data, seseorang berhak mengakses data pribadinya. Untuk rekaman CCTV, pemenuhannya rumit karena satu rekaman biasanya memuat banyak orang. Yang lazim dilakukan adalah menyediakan akses terbatas dengan menyamarkan wajah pihak lain.