Rumah bertingkat punya pola keluhan yang sangat seragam: router dipasang teknisi di ruang tamu lantai bawah, dekat tempat kabel masuk, dan kamar tidur di lantai atas, tempat orang paling lama memakai ponsel dan laptop, mendapat sinyal paling buruk.
Ini bukan karena routernya kurang kuat. Sebabnya ada di bangunan itu sendiri.
Kenapa lantai beton sangat menghalangi
Pelat lantai rumah Indonesia umumnya beton bertulang: beton tebal dengan anyaman besi di dalamnya. Beton menyerap sinyal, dan anyaman besi memantulkannya. Kombinasi keduanya menahan sinyal Wi-Fi jauh lebih banyak daripada dinding bata.
Ditambah lagi, sinyal jarang menembus lantai tegak lurus. Router di sudut rumah memancar ke kamar atas di sisi lain secara menyerong, sehingga jalur yang harus ditembus di dalam beton menjadi lebih panjang.
Mulai dari posisi router
Sebelum membeli apa pun, periksa posisi router. Perbaikan gratis ini sering cukup untuk rumah dua lantai yang tidak terlalu luas.
- Pindahkan ke titik yang lebih ke tengah rumah, bila kabelnya memungkinkan.
- Letakkan setinggi mungkin di lantai bawah, di atas lemari, bukan di lantai atau di rak TV bagian bawah.
- Keluarkan dari lemari tertutup dan jauhkan dari akuarium, lemari es, dan cermin besar.
- Bila antenanya dapat diatur, arahkan sebagian mendatar untuk memancar ke atas dan ke bawah.
Panduan penempatan yang lebih lengkap ada di panduan menempatkan router.
Bila posisi saja tidak cukup
Rumah tiga lantai, rumah luas, atau rumah yang pemakaian utamanya di lantai atas memerlukan titik pancar kedua di atas. Tiga pilihan, dari yang terbaik:
- Access point dengan kabel. Tarik kabel LAN dari router ke lantai atas, lalu pasang access point atau router kedua dalam mode access point. Kecepatannya penuh dan paling stabil. Banyak rumah punya jalur pipa listrik atau celah tangga yang dapat dipakai.
- Mesh Wi-Fi. Satu unit di dekat router, satu di lantai atas, idealnya di tangga atau tepat di atas unit pertama, bukan di kamar terjauh. Mesh yang mendukung sambungan kabel antar unit memberi hasil terbaik dari dua dunia.
- Repeater. Paling murah, tetapi kecepatan biasanya turun banyak dan perpindahan antar lantai sering tersendat. Cocok hanya untuk satu kamar dengan kebutuhan ringan.
Perbandingan lengkap mesh dan repeater dibahas di panduan mesh Wi-Fi vs repeater.
Kesalahan meletakkan titik kedua
Kesalahan paling umum adalah meletakkan unit mesh atau repeater di kamar yang sinyalnya paling buruk. Unit itu hanya dapat memancarkan ulang sinyal yang ia terima, bila ia sendiri menerima sinyal lemah, seluruh kamar ikut lambat.
Letakkan di titik yang masih menerima sinyal cukup baik dari router, biasanya di ujung atas tangga atau tepat di atas posisi router. Dari sana ia menjangkau kamar-kamar di lantai atas melalui dinding bata, bukan melalui beton.
Pelat beton bertulang adalah penghalang terbesar Wi-Fi di rumah bertingkat. Mulailah dengan memindahkan router ke tengah dan lebih tinggi. Bila belum cukup, pasang titik pancar kedua di lantai atas, access point berkabel lebih dulu, mesh bila kabel tidak mungkin, dan letakkan di tempat yang masih menerima sinyal baik, bukan di kamar terburuk.
Pertanyaan yang sering diajukan
Di mana router sebaiknya diletakkan di rumah dua lantai?
Idealnya di tengah rumah dan agak tinggi di lantai bawah, misalnya di atas lemari, atau di lantai atas bila sebagian besar pemakaian terjadi di sana. Hindari sudut rumah dan lantai paling bawah di dalam lemari tertutup.
Mana yang lebih baik untuk rumah bertingkat, repeater atau mesh?
Mesh umumnya lebih baik: satu nama jaringan, perpindahan antar titik lebih mulus, dan penurunan kecepatan lebih kecil. Access point yang disambung kabel masih yang terbaik bila kabel dapat ditarik ke lantai atas.